Games Online

Kamis, 24/08/2017

Lingkungan Kerja Buruk Berdampak Negatif pada Kesehatan

Lingkungan Kerja Buruk Berdampak Negatif pada Kesehatan

dr. Hj. Silviana

Editor : dr. Hj. Silviana


Dibaca 151 kali

Washington, DC. Menurut sebuah survei yang diadakan oleh lembaga think thank RAND, dua per tiga pekerja di Amerika Serikat berada dalam lingkungan pekerjaan yang tidak seusai dengan apa yang mereka bayangkan.

Fakta mengejutkan itu tak sampai di sana. Sebuah penelitan yang dilakukan di Inggris menemukan, terdapat lebih banyak tanda fisik akibat stres pada orang-orang yang bekerja di lingkungan buruk dibanding mereka yang menganggur.

Laporan RAND tersebut merupakan refelksi dari survei yang dilakukan terhadap 3.000 pekerja AS, dengan rentang usia 25 hingga 71 tahun dari berbagai jenis pekerjaan.

"Hal yang paling mengejutkanku adalah, soal jumlah orang yang mengalami interaksi sosial yang tak menyenangkan di tempat kerja," ujar rekan penulis studi dan associate professor di Harvard Medical School, Nicole Maestas, seperti dikutip dari CNN, Rabu (23/8/2017).

Penelitian itu juga mengungkap bahwa satu dari lima pekerja di AS pernah merasakan hal tersebut, termasuk kekerasan verbal dan seksual.

Studi tersebut juga menemukan bahwa satu dari empat pekerja di AS mengatakan bahwa mereka merasa tak memiliki cukup waktu untuk melakukan pekerjaannya. Setengah dari mereka juga harus bekerja di waktu luang untuk mencapai target.

Sementara itu pekerja perempuan lebih sering mengeluhkan mengalami kesulitan mengatur waktu untuk mengurus masalah pribadi dan keluarga dibanding pekerja laki-laki. Mereka juga menghasilkan lebih sedikit uang.

Sementara itu, meski 75 persen pekerja menerima pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka, hanya 35 persen dari mereka yang mengatakan bahwa pekerjaannya telah menawarkan kemajuan untuk masa depan yang lebih baik.

Seorang associate professor bidang psikologi di George Mason University, Seth Kaplan, mengatakan bahwa fakta-fakta tersebut menguatkan hal-hal yang mereka ketahui tentang kondisi kerja Amerika. Namun, presentase yang melaporkan bahwa lingkungan kerja tak bersahabat, lebih tinggi dari dugaannya.

"Kita terlalu memusatkan perhatian pada perilaku dramatis, seperti adanya insiden penembakan di tempat kerja," ujar Kaplan.

"Namun memiliki atasan kasar dan agresif yang menjadi penyebab stres kronis, tak mendapat banyak perhatian. Dan saya pikir kita agak gagal menyadari betapa buruknya penyebab stres itu," imbuh dia.

Sisi baiknya, 84 persen pekerja melaporkan bahwa mereka mempelajari hal-hal baru. Menurut profesor sosiologi medis di University of Manchester, Tarani Chandola, memiliki pekerjaan yang buruk berdampak negatif untuk kesehatan fisik dan mental.

Chandola dan rekannya, Na Zhang, mensurvei 1.116 orang di Inggris yang berusia 35 hingga 75 tahun. Melalui studi itu, mereka menemukan bahwa orang yang tadinya menganggur lalu memiliki pekerjaan yang buruk, memiliki indikator stres yang lebih tinggi dibanding mereka yang masih menganggur.

Mereka yang memiliki indikator tersebut, lebih berkemungkinan untuk mengalami penyakit terkait metabolisme atau kardiovaskuler.

Menurutnya, secara keseluruhan penelitian tersebut memberikan gambaran baru tentang efek pekerjaan berkualitas buruk.

Dalam studi itu juga terungkap, pekerja yang tak memiliki fleksibilitas dalam jadwal cenderung memiliki indikator stres lebih banyak. Dalam studi berikutnya, ia ingin mempelajari lebih dalam tentang dampak fleksibilitas pada pekerja.

"Saya berpikir bahwa fleksibilitas benar-benar penting karena tak banyak tempat kerja yang memungkinkan fleksibiltas, dan pekerja dapat menjadwalkan jam kerja mereka sendiri," ujar Chandola.

"Fleksibilitas adalah salah satu cara seseorang dapat mengurangi tingkat stres mereka di tempat kerja," imbuh dia. (lip)



BACA JUGA



BERITA TERKAIT