Investasi Online

Kamis, 24/08/2017

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir Untuk Kesehatan Bangsa

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir Untuk Kesehatan Bangsa

Rr. Anne Marie Heidija

Editor : Rr. Anne Marie Heidija


Dibaca 231 kali

Jakarta. Kata nuklir umumnya digunakan untuk menggambarkan senjata atau alat perang berbahaya yang dalam penggunaannya dapat mengancam kehidupan jutaan umat manusia. Salah satu produk nuklir yang paling terkenal adalah bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Berkat dahsyatnya kerusakan yang ditumbukan oleh bom atom tersebut banyak masyarakat awam yang terlanjur memandang seram pada teknologi nuklir. Padahal, teknologi nuklir sendiri memiliki banyak manfaat yang bisa menyelamatkan banyak nyawa manusia.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan tinggi (Menristekdikti) dalam rangka melepaskan ketergantungan terhadap teknologi luar mengadakan kolaborasi riset antara lembaga litbang dengan menggunakan model konsorsium. Model konsorsium ini melibatkan unsur akademisi, bisnis/industri dan pemerintah sebagai pemegang regulasi. Model riset bersama ini dikenal dengan model ABGs (academic, business dan government, serta society/asosiasi masyarakat ). Model konsorsium seperti ini merupakan model yang bisa menjawab adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh lembaga litbang dan industri.

Menristekdikti Mohamad Nasir bekerjasama dengan BATAN dan PT kimia farma, sebagai industri yang telah memproduksi hasil litbang yang dikembangkan oleh BATAN, mengembangkan suatu metode kesehatan hasil pemanfaatan dari teknologi nuklir yakni radiofarmaka.

“Teknologi nuklir sesungguhnya telah dimanfaatkan secara luas di berbagai bidang kehidupan. Produk-produk teknologi nuklir telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang kesehatan, energi, pertanian, industri, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Salah satunya adalah pemanfaatan radiofarmaka di bidang kesehatan,” papar Nasir.

Diagnosis menggunakan radiofarmaka memiliki kelebihan dibandingkan dengan diagnosis dengan metode lain yaitu dapat memberikan gambaran fungsi suatu organ secara akurat. Adanya perubahan atau abnormalitas fungsi organ dapat diketahui meskipun belum ada perubahan bentuk atau anatomi organ tubuh. Informasi ini sangat penting bagi para dokter untuk menentukan langkah yang tepat dalam menangani pasien agar tidak terjadi salah diagnosa.

“Menurut laporan dari Badan Tenaga Nuklir Internasional, jumlah pasien di seluruh dunia yang ditangani menggunakan radiofarmaka telah melebihi 6 juta pasien per tahun. Sedang di antara negara-negara tetangga yang dekat dengan Indonesia, Jepang merupakan negara dengan penggunaan radiofarmaka terbesar. Saat ini di Jepang ada sekitar 2 juta pasien per tahun telah memanfaatkan radiofarmaka untuk diagnosis atau terapi berbagai penyakit,” jelas Menteri Nasir.

Di Indonesia, radiofarmaka telah menjadi bagian penting dalam peyelesaian masalah kesehatan nasional, baik untuk diagnosis maupun terapi. Radiofarmaka telah dimanfaatkan di tanah air di rumah sakit-rumah sakit yang telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir. Jenis penggunaan radiofarmaka tertinggi di tanah air juga ditempati oleh penggunaan untuk diagnosis kanker.

Jika melihat manfaat Teknologi Nuklir yang begitu besar, keinginan untuk mandiri dalam teknologi nuklir bukanlah sebagai impian semata. Untuk merealisasikannya tentu saja dengan melakukan riset dan inovasi secara terus menerus dan berkelajutan. Selain melakukan riset, peneliti juga harus mempublikasikan hasil risetnya agar bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam akhir tinjauannya di Puspiptek Serpong, senin (19/6), Nasir menyemangati para peneliti dan pelaku industri teknologi nuklir untuk tetap bersikap optimis dalam menghadapi tantangan-tantangan yang datang silih berganti demi mencapai kemandirian teknologi dan peningkatan daya saing industri begitu besar.

“Dengan semangat penelitian, selayaknya hal tersebut menjadi pemicu rasa optimisme untuk bisa menjawab semua tantangan. Tantangan bisa dijawab dengan cepat atau lambat tergantung manusianya sendiri. Oleh karena itu hendaknya kita bisa bekerjasama bergandengan tangan agar bisa mempercepat proses realisasi kemandirian tersebut,” ujarnya. (dik)



BACA JUGA



BERITA TERKAIT